CINTA
Oleh : Reni Prasetia
N

“Yas,
kenapa kamu bengong disitu?, ayo segera berangkat”, teriak ibu
Aku
sedikit tergeragap dengan teriakan ibu, namun selaksana titah dari raja, aku
tak dapat menolak untuk segera berangkat meskipun dalam hati kecilku aku sangat
takut segala sesuatunya berubah saat kami kembali nanti. Dengan tak begitu
bersemangat aku berjalan menuju mobil, di dalam mobil, paman, bibi, sepupuku,
ibu, kakak serta adikku telah duduk dan atmosfer di dalamnya terasa begitu sesak.
“Bu,
kenapa sesak sekali?, sepertinya kalau aku tidak ikut tidak akan menjadi begitu
sesak”, celotehku saat memasuki mobil.
“Kenapa
kamu cerewet sekali?, sudah cepat duduk !”, kata kakakku dengan begitu
beringas.
Bukan
karena menuruti perkataan kakak aku segera duduk, tetapi saat melihat tatapan
ibu yang nampak begitu lelah, seperti tak ada alasan lagi bagiku untuk menolak,
meskipun berseberangan dengan hatiku. Setelah aku duduk, paman segera melajukan
mobil yang kami naiki. Seiring dengan melajunya mobil, melaju pulalah
keheningan - keheningan diantara kami. Aku benci dengan keheningan seperti ini,
kesannya seperti ada yang sedang meninggal. Terbersit dalam benakku untuk
membuat lelucon agar suasannya lebih cair. Aku menggoda adikku, ku ambil jepit
rambutnya dan sedikit ku koyakkan rambutnya.
“Maaass
!, jangan gitu mas, rambutku berantakan nih”, rengek adikku
disertai gelak tawaku.
Bukan
tawa yang menyambut leluconku tapi serangkaian wajah – wajah menyeramkan yang
sama sekali tak berhasrat untuk tertawa. Gelak tawaku serasa seperti kembang
api di tengah samudera, tak berpengaruh sama sekali.
“Sudah
yas, jangan ganggu adikmu !”, perintah mbak Ilma, kakakku.
Akhirnya aku diam, aku ikut hanyut dalam
derasnya pusaran keheningan di dalam mobil tersebut. Sembari diam, pandangan
mataku menangkap semburat kehijauan dari balik kaca mobil, semburat kehijauan
tersebut adalah interpretasi dari pepohonan di tepi hamparan rawa, dan seketika
itu imajinasiku bermain. Lima puluh juta tahun yang akan datang rawa tersebut pasti
akan menjadi tempat penghasil batu bara muda, dari gambut – gambut rawa
tersebutlah akan memunculkan kriket – kriket batu bara. Tentu saja itu akan
terjadi jika rawa tersebut tetap dijaga
kelestariannya dan jika tidak, maka generasi kedepan hanya mengetahui batu bara
dari buku – buku sejarah saja. Lebih jauh lagi, tekhnologi dan sosio-kultur
lima puluh juta tahun yang akan datang mungkin akan teramat sangat jauh dari
sekarang dan mungkin pemanfaatan batu bara sendiri juga berbeda jauh dari
sekarang. Mungkin iklim di Indonesia juga ikut berubah lima puluh juta tahun
yang akan datang, mengingat patahan – patahan lempeng benua yang semakin lama
semakin menyebabkan kedekatan antar pulau maupun benua di planet bumi ini.
lebih liar lagi, mungkin lima puluh juta tahun yang akan datang tak ada lagi
sepeda yang dikayuh dengan kaki, tetapi mungkin ada inovasi baru yaitu sepeda
terbang. Aku tersenyum senyum sendiri membayangkan kebenaran dari liarnya
imajinasiku barusan, pasti akan sangat mengagumkan kenampakan dunia lima puluh juta
tahun yang akan datang. Aku harus menulis surat untuk mengabarkan keadaan di
masa sekarang untuk masa depan, aku akan menuliskannya di sebuah kertas dan
akan ku masukkan ke dalam tabung kemudian ku kuburkan di tanah lapang di dekat
rumahku. Tawaku pecah saat aku membayangkan hal itu.
“Heh
!!!,” bentak mbak Ilma seraya memukulkan botol air mineral di lenganku.
“Pasti
kamu mikirin hal – hal jorok ya?,” sergah mbak Ilma.
“Enggak
kok !, sapa bilang?,” jawabku seraya memegang lenganku.
Ternyata
lumayan sakit pukulan tadi, apalagi botolnya masih terisi. Kakaku memang selalu
cerewet, seakan – akan dia tak pernah membiarkanku bebas sebentar saja. Dia
adalah miss perfeksionis yang hobinya mengatur kehidupan orang lain,
tapi aku justru suka dia yang seperti itu karena aku merasa diperhatikan,
dikhawatirkan dan disayangi. Tetapi terkadang aku juga tak suka dengan caranya
yang sedikit berlebihan. Tak terasa mobil yang kami naiki telah sampai di
tempat yang kami tuju. paman mengawali turun dari mobil dan kemudian disusul
dengan yang lain, hingga kemudian aku. Begitu aku keluar, angin dingin
menyambut. Jika dilihat dari kondisi awannya, pasti angin tersebut telah
membawa seperberapa mili partikel uap air dari hasil evaporasi yang mengendap
di awan cumulonimbus tersebut. Itu merupakan bukti paling nyata akan turunnya
hujan lebat sore itu, prediksiku tak mungkin meleset, begitu pikirku. Dan
beberapa menit kemudian partikel – partikel air meluncur dengan kapasitas dan
intensitas yang begitu rapat, hujan deras benar – benar datang tak terelakkan.
Tebakanku tak meleset, “aku cocok jadi peramal cuaca”, begitu pikirku.
Sementara hujan, adikku masih terjebak di dalam mobil karena dia masih
kebingungan mencari jepit rambutnya yang sebenarnya sedang ku sembunyikan. Ibu
menyuruh adikku untuk tinggal beberapa waktu di dalam mobil karena kami tak
membawa payung, sementara acara dimulai. Aku masuk ke dalam ruangan, berbeda
dengan beberapa waktu yang lalu aku tak pernah mau diajak masuk ke dalam karena
aku lebih suka duduk – duduk di depan gerbang gedung ruangan yang bertuliskan “PENGADILAN
AGAMA ISLAM NEGERI KOTA KEDIRI” tersebut. Tetapi kali ini aku masuk, aku hendak
menanyakan kepada petugas, apakah mereka memiliki payung atau tidak. Dan
ternyata ada, kemudian ku bawa payung pinjaman tersebut untuk menjemput adikku
yang terjebak di dalam mobil.
“Mas
Ilyas !, you are my angel”, seru adikku dengan logat Inggris
indonesianya saat aku membuka pintu mobil dengan membawa payung.
Dan
seketika itu juga ekspresi kesal di wajahnya memudar, apalagi saat ku
kembalikan jepit rambutnya. Dia tersenyum lebar, dia sangat senang jepit
kesayangannya itu kembali. Aku juga ikut senang melihat senyumannya, senyuman
tulus dan polos. aku kasihan melihat dia, apakah setelah ini dia masih bisa tersenyum
seperti itu?. “Ah !, dia belum mengerti apa – apa tentang arti perpisahan”
begitu pikirku saat itu.
“Kamu
masuk aja duluan, mas masih pengen diluar”, himbauku pada adikku
setelah kami berhasil menerobos hujan.
Adikku
mengangguk dan kemudian masuk ke dalam ruangan, sementara aku tetap berada
diluar. Aku duduk di tempat yang sedikit strategis untuk menikmati pemandangan
hujan sambil mendengarkan lagu – lagu dari mp3 Hpku melalui headset.
Lagu pertama yang tak sengaja ku putar adalah lagu yang dipopulerkan oleh
almarhum Crisye, yang berjudul kisah kasih di sekolah.
Kisah
kasih di sekolah dengan si dia
Tiada
kisah paling indah, kisah kasih di sekolah
Tiada
masa paling indah, masa – masa di sekolah
Sesekali
aku ikut bersenandung, sementara itu lamunanku melesat ke beberapa tahun silam.
Melesat ke tahun – tahun indah yang tak pernah ku jamah.
###
Kata orang masa SMA adalah masa
keemasan. Masa yang sangat abu – abu, dimana tidak hitam dan putih pun juga
tidak. Masa SMA yang diawali dengan MOS (Masa Orientasi siswa) sebagai gerbang
awal masuknya siswa SMP ke jenjang SMA. Tahapan ini merupakan tahap paling
mengasyikkan, yang mana siswa baru dan siswa lama dapat berbaur bersama atau
lebih tepatnya dipaksa untuk berbaur. Entah dari mana tradisi ini muncul, yang jelas
setiap siswa baru di sekolah manapun diwajibkan meminta tanda tangan minimal
seratus kepada kakak tingkatnya. Dan tradisi ini pun juga di budayakan oleh
sebuah SMA swasta di pinggiran kota kediri, SMA Kadiri.
Pagi itu pemandangan di SMA Kadiri
sedikit aneh, banyak siswa siswinya yang mengenakan seragam putih hitam dengan
membawa barang – barang yang tak lazim dibawa ke sekolah, mereka berlari – lari
sementara ada seorang siswa sedang meniupkan peluit dengan kuat – kuat sembari
tangannya mengibas – kibas ke arah lapangan. Seakan benar – benar dikibas oleh
siswa berpeluit tadi, siswa – siswi yang membawa peralatan aneh tadi berlari
tunggang langgang mengikuti arah kibasan tangan siswa tadi. Sedikit lucu
menyaksikan pemandangan demikian, bagaiman bisa perkenalan siswa baru seperti
itu?, siapa juga yang mula - mula menjadikannya sebagai tradisi. Benar – benar
tak habis dipikir. Tetapi dari situlah cerita baru dimulai, cerita tentang dua
anak remaja yang tak sengaja bertemu dalam MOS di sekolah tersebut, yang satu
bernama Lutfi dan satunya lagi bernama Rahmat. Pertemuan unik mereka bermula
ketika Lutfi mendapatkan hukuman karena membantah seniornya. Lutfi dihukum
untuk mencari tanda tangan seseorang berinisial R, yang merupakan ketua klub
voli dan kandidat ketua Osis. Singkat cerita akhirnya Lutfi dapat menemukan
seseorang berinisial R, yang merupakan ketua klub voli dan kandidat ketua Osis
dan yang sebenarnya adalah Rahmat. Seperti dalam novel – novel atau cerita –
cerita roman yang lain, hubungan Lutfi dan Rahmat tidak berhenti sampai disitu
dan lambat laun akhirnya mereka menjadi dua sejoli. Cerita mereka berdua sangat
manis, semanis gula jawa yang terbuat dari kelapa, gulanya tak hanya manis
tetapi juga gurih dan legit. Meskipun dalam perjalanan cerita mereka juga
dibumbui dengan rona – rona cemburu dan pertengkaran – pertengkaran kecil,
namun segala sesuatunya tidak menjadi permasalahan yang begitu signifikan bagi
mereka. Masa SMA ternyata menjadi terasa begitu singkat bagi mereka, hingga
akhirnya mereka berdua lulus dari SMA tersebut dan mulai merasakan senias
kehidupan yang terjal. Selepas dari SMA, Rahmat mendaftar di akademi kepolisian
dan Lutfi mendaftar di Universitas pendidikan. Namun na’asnya mereka berdua
tidak diterima hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menikah dan
berwirausaha. Hidup memang tak mudah, usaha mereka mengalami jatuh bangun yang
cukup lama hingga akhirnya mereka menjadi lebih berpengalaman menyusun strategi
dalam berwirausaha. Beberapa tahun berlalu dan bisnis mereka berkembang pesat.
Mereka semakin bahagia dengan cinta mereka, terlebih lagi mereka telah
dikaruniai tiga anak yang lucu – lucu dan cerita cinta mereka masih semanis
saat mereka muda dulu, saat mereka masih SMA.
“Yas, palu sudah diketok, sekarang
mereka resmi bercerai”, kata mbak Ilma seraya memegang pundakku.
Aku sedikit terperanggah dari
lamunanku saat merasakan sentuhan tangan mbak Ilma di pundakku dan aku pun
menoleh sembari melepas headset yang sedang ku pakai.
“Mbak bilang apa tadi?, maaf
aku gak begitu dengar,” kataku padanya.
“Palu udah diketok dan mereka
udah resmi bercerai sekarang,” katanya diikuti isakan tangis.
Mbak Ilma duduk disampingku dan
kemudian menangis. Hatiku berkecamuk hebat saat melihat kakaku menangis dan
mataku ikut memanas, butiran – butiran air mataku tak terelakkan untuk jatuh,
namun aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak menjatuhkannya. Aku tidak ingin
kakaku semakin sedih karena melihat aku bersedih, aku pun memeluk kakakku yang
kala itu duduk disampingku.
“Sudahlah mbak gak papa, semuanya
akan tetap baik – baik saja meskipun ayah ibu berpisah dan kita tetap keluarga
meskipun tidak bersama – sama,” kataku menguatkan kakakku.
Sembari itu akhirnya air mataku tak
terelakkan jatuh, aku pun ikut menangis. Aku tak kuasa membayangkan bagaimana
kelanjutan cerita keluargaku nanti sekembalinya dari pengadilan ini. keluargaku
yang dipenuhi cinta, keluargaku yang baik – baik saja ternyata menyimpan
rahasia kecil yang bahkan kami (anak - anaknya) tak tahu menahu kalau cerita
cinta ayah dan ibunya tak lagi semanis masa SMA mereka, cerita cinta Lutfi dan
Rahmat. Mungkin itulah sebabnya ibu selalu mengatakan bahwa cinta tak selalu
semanis gula jawa, karena kadang kala dalam proses pembuatannya yang tak
sempurna menyebabkan gula itu menjadi cacat dan tidak sesuai dengan yang
diharapkan, seperti halnya dengan cinta.
Tamat.
####
0 Response to "Cerpen : Cinta"
Posting Komentar