Edisi Curhat : "Waiting"

Kita hidup dalam dua kehidupan berbeda
setiap manusia memiliki kehidupan masing2
tidak bertemu disatu titik kehidupan tak masalah
itu tak akan mengubah fakta apapun
biarlah kutelan dalam dia sendirian
hingga potongan jawaban misteri terbesarnya tiba
ini sungguh kisah yg berbeda
akan kutunggu dengan cara terbaik
agar seluruh kisah ini tetap baik..
Amiin.. :)

Puisi : Sahabat

Malam boleh saja lelah...
Tercaut marut dalam larut..
Bias bahagia ternyata berbinar konstan...
Dalam hadirnya yang kusebut sahabat..
Menjadi senyum dalam tangis..
Kata dalam hening...
Dan lantunan do'a bagi jiwa...
Senang bertemu dengan kalian...
Terimakasih.... :)

Edisi curhat : "MidDay"

Aku lelah berlari...
Aku enggan mencari....
Dibalik tembok yang runtuh dengan lelehan air mataku....
Biarkan aku tak beranjak....
Berikan kesempatan aku berdiri disini....
Kadang terdiam lebih baik dari seribu langkah yang tercipta...
Kadang statis lebih menyenangkan.....
Dibanding berharap sebuah kisah berakhir dramatis.....

Edisi Curhat : "Just usual Morning"

Tak ada kebenaran....
Tak ada kesalahan....
Semua statis dan apatis...
Teori hanyalah sampah yang terurai dalam kemasan uji dan bukti empiris...
Apa yang kita lihat.
Belum tentu ada
Apa yang kita tak lihat.
Belum tentu tak ada
Membingungkan?
hmmmmb...... sama !

Edisi Curhat : Ya Sudahlah



Hamba tahu engkau maha bijak yaa Robb..
Hamba tahu ini semua sudah suratan, namun hamba ini cuman manusia biasa yang lebih sering tidak menerima dan memahami segala sesuatu begitu saja.
 Hamba butuh proses, hamba butuh banyak waktu.
Sebagian berubah karena terpaksa.
Sebagian lagi berubah setelah membayar mahal dgn bnyk kesedihan.
Sebagian lagi berubah setelah penuh penyesalan dan airmata.
Maka orang2 yg beruntung adalah yg berubah cukup dgn belajar dari pengalaman orang lain. 

Dari bacaan, nasehat, mengamati. 
Sebelum terlanjur. 
Namun ketika dalam kurun waktu penerimaan dan pemahaman tersebut tak kunjung datang, yang bisa kulakukan justru memberontaki dan memunafiki semuanya.
 Apalah daya hambaMu ini ya Tuhan.
Apa yang bisa hamba lakukan, ketika semua ini justru adalah suratan dari engkau, sang maha pemilik segala.
ya sudahlah.....


Puisi : "Oh"

Oh,
Dimana cemburu itu?
Bukan cemburu tanpa alasan
Tapi cemburu karena ingin menjaga
Bukan cemburu buta
Tapi cemburu karena cinta
Karena Sang Pencipta

Oh, indahnya
Cemburu dengan anggun
Perlahan, saling mengingatkan

"Jika kau peduli, kau akan menjaga"

-----------------------------------------------------------
Karena peduli bukan hanya mendukung ketika ia benar
Peduli juga mengingatkan ketika ia salah.
-----------------------------------------------------------

Tak ada cinta jika tak cemburu
Tapi, cemburu harus diarahkan agar tak serampangan
Agar tak saling menyakiti :-)

Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:
ثلاثة لا ينظر الله عز وجل إليهم يوم القيامة: العاق لوالديه، والمرأة المترجلة، والديوث.( رواه أحمد والنسائي
Artinya : "Tiga golongan yang Allah tidak akan melihat (bermakna tiada bantuan dari dikenakan azab) mereka di hari kiamat : org yd durhaka kepada ibu bapaknya, Perempuan yang menyerupai lelaki dan lelaki DAYYUS" ( Riwayat Ahmad & An-Nasa'i: Albani mengesahkannya Sohih : Ghayatul Maram, no 278 )

Dalam riwayat lain dikatakan Dayyus yaitu seseorang lelaki yang membiarkan kejahatan (seperti: zina, buka aurat, bergaul bebas) yang dilakukan oleh ahlinya (isteri dan keluarganya).

Jika kita melihat tafsiran oleh para ulama berkenaan istilah Dayus ia adalah seperti berikut:
هو الذي لا يغار على أهله 
Artinya: "Seseorang yang tidak ada perasaan cemburu (kerana iman) terhadap ahlinya (isteri dan anak-anaknya). [An-Nihayah,2/147 ; Lisan al-Arab, 2/150]

Opini : Wajah Pancasila di Era Reformasi



Wajah Pancasila di Era Reformasi
Oleh: Reni Prasetia Nurmawati

Euforia kebebasan pacsa rezim Orde baru begitu gilang gemilang, seperti angin segar di dalam bis yang penuh sesak dan panas akibat radiasi matahari dengan intensitas yang terlalu tinggi, tak ubahnya orde baru. Orde baru adalah masa yang sangat menyesakkan, panas, penat sekaligus masa yang sangat panjang. Tiga puluh dua tahun pemerintahan orde baru dan selama itu pula rakyat Indonesia tercekat, tergantung sedikit tapi tidak sampai mati.
Awal rezim orde baru disambut dengan antusias tinggi oleh rakyat Indonesia karena pada waktu itu gembong orde baru “telah berjasa” mengentaskan rakyat Indonesia dari teror pembuhuhan keji yang disinyalir dilakukan oleh “PKI” (partai Komunis yang pernah mencoba mengganti idoelogi bangsa dengan ateisme) lantaran dendamnya dengan TNI. Dari situlah muncul spekulasi bahwasanya gembong orde baru tersebut memanfaatkan situasi, tanpa ada yang menyadarinya. Sampai surat Super Semar turun, sampai pelantikan presiden kedua, sampai orde baru bergulir. Rakyat Indonesia terlena, tanpa sadar terlepas dari mulut harimau mereka dengan hormat masuk ke mulut buaya.
Orde baru menetapkan kebijakan – kebijakan dengan konsep yang sangat bagus, seperti penerapan P4 (Pedoman penghayatan dan Pengamalan Pancasila) dan kebijakan dalam aspek lain. Beberapa aspek berjalan dengan baik sampai ketika itu Indonesia sempat dijuluki sebagai “The Miracle of Asia” dengan perekonomian yang meningkat pesat, swasemabada panggan, bahkan sampai sempat menjadi pemasok beras dunia. Terlepas dari semua hal tersebut, Indonesia menanggung utang yang begitu banyak kepada bank dunia (IMF). Beberapa kebijakan yang diharapkan dapat mengentaskan Indonesia dari utang ternyata gatot (gagal total) dalam praktiknya, lantaran aparat yang menjalankan sistem korupsi. Pada waktu itu pula pancasila diposisikan sebagai alat penguasa melalui monopoli pemaknaan dan penafsiran pancasila yang digunakan untuk melanggengkan kekuasaan. Akibatnya ketika terjadi pergantian rezim (orde baru ke reformasi), muncullah demistikikasi (penghilangan penghargaan) dan perombakan habis – habisan terhadap Pancasila, yang dianggap sebagai simbol, sebagai ikon dan instrumen politik rezim sebelumnya.  Pancasila ikut dipersalahkan karena dianggap sebagai ornamen sistem politik yang bersifat monolitik sehingga membekas sebagai trauma sejarah yang harus dilupakan.
Isu HAM dan Demokrasi memberikan kekuatan baru bagi rakyat Indonesia untuk menggulingkan kekuasaan rezim orde baru hingga memunculkan era reformasi. Era reformasi perlahan – lahan menggeser pola pikir rakyat Indonesia dari pola pikir yang terbelenggu diktator menjadi pola pikir yang bebas diktator. Pola pikir bebas tersebut membuat masyarakat lebih berani menyampaikan aspirasi, apalagi ketika reformasi bergulir telah dihapuskannya SIUPP dan diganti dengan kode etik.