Puisi : "Sajak Lepaskanlah"

Saat tiba untuk tenggelam
Maka, sebaik apapun niat matahari menyinari bumi
Dia harus mau tenggelam
Memberikan malam kesempatan Saat tiba waktunya untuk gugur
Maka, seindah apapun bunga melati
Dia harus gugur
Luruh ke bumi menjadi tanah kembali Ada banyak cita2 indah kita tidak kesampaian
Ada banyak keinginan mulia kita tidak tergapai
Tapi tidak mengapa, lepaskanlah
Hidup ini tidak selalu dinilai seberapa jauh kita melangkah
Tapi juga dari seberapa tulus kita melepaskan
Untuk meyakini, masih ada cita2 lain, keinginan2 lain
Yang boleh jadi lebih indah dan mulia Esok hari
Matahari akan kembali terbit
Bunga melati pun merekah lagi Lepaskanlah.

Opini : Anarkisme




Anarkisme dengan mengatasnamakan demokrasi dan dikemas dalam bentuk demonstrasi adalah bentuk paling nyata runtuhnya peradaban akademis, logis dan rasionalitas berpikir. Hal ini menjadi cerminan degradasi moralitas tingkat akut sehingga dengan tak tahu malunya melakukan aksi pengrusakan fasilitas umum. Apakah dengan beraksi demikian semua permasalahan akan selesai? Boleh jadi tidak, atau justru malah membengkak. Anarkisme dengan mengatasnamakan demokrasi adalah metode paling kadaluarsa dalam menyampaikan sebuah aspirasi. Hal demikian juga tidak efektif dan jauh dari kata elegan.
Sebagai generasi muda sudah sepatutnya “tahu diri” dan “tahu posisi”. Hal-hal semacam penyampaian aspirasi seharusnya justru tidak merisaukan para birokrat bangsa lantaran aksi yang selalu dibumbuhi dengan anarkisme. Penyampaian aspirasi seharusnya disampaikan dengan cara yang elegan, semisal dengan menulis opini di media cetak nasional ataupun di media lain yang dapat diakses masyarakat luar maupun dalam negeri. Seperti contoh yang disebutkan diatas akan lebih menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia adalah generasi akademis yang bermartabat. Indonesia yang sempat dianggap sebagai  negara sarang teroris lantaran meletusnya bom Bali I dan II dapat direduksi dengan aksi-aksi elegan seperti menulis di media masa dan lain sebagainnya. Adapun aksi demonstrasi, sudah selayaknya dilaksanakan dengan cara yang sopan dan baik.
Salam perdamaian generasi muda !.


Edisi Curhat : "Waiting"

Kita hidup dalam dua kehidupan berbeda
setiap manusia memiliki kehidupan masing2
tidak bertemu disatu titik kehidupan tak masalah
itu tak akan mengubah fakta apapun
biarlah kutelan dalam dia sendirian
hingga potongan jawaban misteri terbesarnya tiba
ini sungguh kisah yg berbeda
akan kutunggu dengan cara terbaik
agar seluruh kisah ini tetap baik..
Amiin.. :)

Puisi : Sahabat

Malam boleh saja lelah...
Tercaut marut dalam larut..
Bias bahagia ternyata berbinar konstan...
Dalam hadirnya yang kusebut sahabat..
Menjadi senyum dalam tangis..
Kata dalam hening...
Dan lantunan do'a bagi jiwa...
Senang bertemu dengan kalian...
Terimakasih.... :)

Edisi curhat : "MidDay"

Aku lelah berlari...
Aku enggan mencari....
Dibalik tembok yang runtuh dengan lelehan air mataku....
Biarkan aku tak beranjak....
Berikan kesempatan aku berdiri disini....
Kadang terdiam lebih baik dari seribu langkah yang tercipta...
Kadang statis lebih menyenangkan.....
Dibanding berharap sebuah kisah berakhir dramatis.....

Edisi Curhat : "Just usual Morning"

Tak ada kebenaran....
Tak ada kesalahan....
Semua statis dan apatis...
Teori hanyalah sampah yang terurai dalam kemasan uji dan bukti empiris...
Apa yang kita lihat.
Belum tentu ada
Apa yang kita tak lihat.
Belum tentu tak ada
Membingungkan?
hmmmmb...... sama !

Edisi Curhat : Ya Sudahlah



Hamba tahu engkau maha bijak yaa Robb..
Hamba tahu ini semua sudah suratan, namun hamba ini cuman manusia biasa yang lebih sering tidak menerima dan memahami segala sesuatu begitu saja.
 Hamba butuh proses, hamba butuh banyak waktu.
Sebagian berubah karena terpaksa.
Sebagian lagi berubah setelah membayar mahal dgn bnyk kesedihan.
Sebagian lagi berubah setelah penuh penyesalan dan airmata.
Maka orang2 yg beruntung adalah yg berubah cukup dgn belajar dari pengalaman orang lain. 

Dari bacaan, nasehat, mengamati. 
Sebelum terlanjur. 
Namun ketika dalam kurun waktu penerimaan dan pemahaman tersebut tak kunjung datang, yang bisa kulakukan justru memberontaki dan memunafiki semuanya.
 Apalah daya hambaMu ini ya Tuhan.
Apa yang bisa hamba lakukan, ketika semua ini justru adalah suratan dari engkau, sang maha pemilik segala.
ya sudahlah.....